Belum Resesi, Asosiasi Sebutkan Ekspor Produk Tekstil Telah Turun 30 %

Belum Resesi, Asosiasi Sebutkan Ekspor Produk Tekstil Telah Turun 30 %

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa Sastraatmadja menjelaskan ancaman resesi global yang disebut terjadi di tahun 2023 rupanya sekarang ini sudah berasa untuk pelaku usaha tekstil. Dia mengatakan ekspor produk tekstil sekarang terhalang sampai terjadi pengurangan.

“Ekspor produk saat ini yang telah dirasa turun sejumlah 30 %,” katanya saat dikontak.

Jemmy memprediksi pengurangan ekspor komoditas tekstil bisa terjadi lebih kronis pada tahun depannya. Eropa dan Amerika Serikat, katanya, ialah teritori arah ekspor yang alami pelemahan daya membeli terbesar.

Resesi global tidak cuma berpengaruh ke Indonesia, karena beberapa negara pemroduksi produk tekstil paling besar yang lain seperti Cina, Bangladesh, Vietnam, dan India terpukul. Selain itu, pelemahan daya beli ke Eropa dan Amerika Serikat memacu peningkatan impor produk tekstil ke Indonesia dari beberapa negara itu. Hingga terjadi daya saing yang ketat dalam negeri.

“Coba banjiri produknya kesini karena Indonesia sebagai negara dengan komunitas ke-4 paling besar dan inflasinya tidak separah negara yang lain,” kata Jemmy.

Dia memandang kondisi itu benar-benar mengusik industri tekstil secara nasional. Di satu segi, katanya, keinginan Ekspor turun tapi disebelah yang lain pasar dalam negeri banjir produk impor. Masalah itu membuat utilisasi industri tekstil turun tajam. Efeknya, terjadi pengurangan jam kerja pegawai yang pada akhirnya memacu pemutusan hubungan kerja atau PHK.

Lebih jauh, Jemmy mengharap Indonesia dapat jaga pasar dalam negeri untuk menghidupkan industri tekstil Tanah Air. “Pelindungan pasar dalam negeri benar-benar diperlukan,” katanya.

Dalam pada itu, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menjelaskan pengurangan ekspor di bidang tekstil terjadi karena sampai sekarang ini pelaku ekspor masih memercayakan negara Barat atau pasar ekspor tradisionil.

See also  Riset Perkiraan Pasar Keuangan RI Aman Walau Ditembus Resesi Global

“Inggris saja berat, Eropa berat karena perselisihan Rusia itu berat,” tutur pria yang dekat dipanggil Zulhas itu.

Maka dari itu, dia merekomendasikan untuk buka pasar ekspor baru. Adapun beberapa negara arah ekspor yang hendak Kementerian Perdagangan sasar ialah negara teritori Afrika, Eropa Timur, Asia tengah, dan Asia Selatan.

Kesempatan ekspor ke beberapa negara tersebut besar sekali karena dipandang kuat pada ancaman resesi 2023. “Misalkan Mesir, Nigeria, Maroko, Asia. India tuch 1 miliar orang lebih, belum Timur tengah, Asia tengah, Eropa Timur . Maka kita harus meluaskan pasar. Ini jalan tolnya telah saya membuka,” katanya.

Kementerian Perdagangan juga mengatakan telah lakukan kesepakatan dagang dengan Uni Emirat Arab hingga pajak ekspor untuk Indonesia jadi 0. Dia mengatakan pelaku ekspor di sektor baju, alas kaki, makanan, sampai hasil pertanian, dapat lakukan ekspor ke Afrika dan Timur tengah lebih murah dan gampang.

 

Check Also

Ditanyakan Kesempatan Khofifah untuk Pemilihan presiden, PDI-P: Rekam Tapak jejaknya Benar-benar Komplet

Ditanyakan Kesempatan Khofifah untuk Pemilihan presiden, PDI-P: Rekam Tapak jejaknya Benar-benar Komplet Sekretaris Jenderal DPP …